Garuda, Spesies Baru Tawon dari Sulawesi



0 komentar

Spesies baru tawon ditemukan di Pegunungan Mekonggo, Sulawesi, Indonesia. Penemunya, Lynn Kimsey menamai tawon raksasa itu sebagai Garuda.

Kimsey yang juga profesor entomologi di Universitas California, Davis, Amerika Serikat mengatakan spesies ini memiliki panjang 2,5 inci atau sekitar 6,4 centimeter (cm), seperti dikutip dari laman Dailymail. "Saya menamai Garuda, seperti simbol nasional Indonesia," kata Kimsey.

Dia menambahkan Garuda memiliki...............selengkapnya

Akibat Evolusi



0 komentar

 Evolusi memengaruhi setiap aspek dari bentuk dan perilaku organisme. Yang paling terlihat adalah adaptasi perilaku dan fisik yang diakibatkan oleh seleksi alam. Adaptasi-adaptasi ini meningkatkan kebugaran dengan membantu aktivitas seperti menemukan makanan, menghindari predator, dan menarik lawan jenis. Organisme juga dapat merespon terhadap seleksi dengan berkooperasi satu sama lainnya, biasanya dengan saling membantu dalam simbiosis. Dalam jangka waktu yang lama, evolusi menghasilkan spesies yang baru melalui pemisahan populasi leluhur organisme menjadi kelompok baru yang tidak akan bercampur kawin. Akibat evolusi kadang-kadang dibagi menjadi 2 yaitu:

Seleksi Alam



0 komentar
    Seleksi alam adalah proses di mana mutasi genetika yang meningkatkan keberlangsungan dan reproduksi suatu organisme menjadi (dan tetap) lebih umum dari generasi yang satu ke genarasi yang lain pada sebuah populasi. Ia sering disebut sebagai mekanisme yang "terbukti sendiri" karena:

Evolusi



0 komentar
 Pengertian dari Evolusi adalah perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan ini disabebkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atu langka dalam suatu populasi. Yang mendorong terjadinya evolusi ada dua mekanisme utama yaitu seleksi alam dan hanyutan genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk kelangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi dan sebaliknya

Pentingnya Keanekaragaman Hayati Laut



0 komentar
     Keanekaragaman Hayati Laut merupakan semua keberagaman bentuk yang ada di permukaan maupun laut dalam, termasuk interaksi antarjenis, populasi maupun dengan habitat serta lingkungannya. Keanekaragaman Hayati Laut dibedakan menjadi tiga tingkat yaitu;

Mengenal Habitat Kura-Kura



0 komentar

mendengar nama hewan ini pasti anda sudah tahu bahwa hewan ini mepunyai sifat jalan yang lambat dan memiliki tempurung pada punggungnya ini memiliki habitat yang berbeda-beda sesuai dengan jenisnya. Habitat kura-kura yang alami dapat ditemukan di sungai ataupun laut. Kura-kura termasuk hewan yang mengalami evolusi paling lambat, hampir tidak jauh beda dengan bentuk tubuh kura-kura yang ditemukan pada ratusan

Lahan Basah dan Hutan primer



0 komentar
  Lahan basah atau wetland (Ingg.) adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Yang digolongkan sebagai lahan basah diantaranya adalah rawa-rawa, paya, dan gambut. Air yang menggenangi lahan basah digolongkan kedalam air tawar, payau, atau asin. lahan basah memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dibanding dengan kebanyakan ekosistem. Di atas lahan basah tumbuh berbagai tanaman macam tipe vegetasi(masyarakat tetumbuhan) seperti hutan rawa air tawar,

Kepunahan Spesies



0 komentar
    Spesies terancam adalah populasi makhluk hidup (spesies atau subspesies terpisahkan evolusi) yang berada dalam resiko kepunahan karena jumlahnya sedikit, maupun terancam punah akibat perubahan kondisi alam atau hewan pemangsa. Berbagai negara di dunia memiliki undang-undang perlindungan istimewa bagi habitat atau spesies terancam, yang berisi pelarangan perburuan, pembatasan pengembangan lahan, atau penetapan daerah cagar alam dan suaka margasatwa. Jumlah spesies yang terancam sebenarnya lebih banyak

Jenis Keanekaragaman Hayati



0 komentar
Jika dikelompokkan secara garis besar keanekaragaman hayati itu terbagi menjadi beberapa tingkatan yaitu sebagai berikut:

1. Keanekaragaman genetik

    Setiap organisme yang hidup memeiliki sifat yang sepenuhnya dikendalikan oleh faktor keturunan berupa gen yang dihasilkan dari induk jantan dan induk betina. Kombinasi susunan perangkat gen dari dua induk tersebut akan menyebabkan keanekaragaman individu dalam satu spesies berupa varietas-varietas (varitas) yang terjadi secara alami atau secara buatan. Keanekaragaman yang terjadi secara alami adalah akibat adaptasi atau penyesuaian diri setiap individu dengan lingkungan, seperti pada rambutan. Faktor lingkungan juga turut mempengaruhi sifat yang tampak (fenotip) suatu individu di samping ditentukan oleh faktor genetiknya (genotip). Sedangkan keanekaragaman buatan dapat terjadi antara lain melalui perkawinan silang (hibridisasi), seperti pada berbagai jenis mangga.

Keanekaragaman Berdasarkan Karakteristik Wilayah



0 komentar

Sebagai negara tropis Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat menonjol. Indonesia memiliki ratusan ribu makhluk yang merupakan lebih 16 persen makhluk di dunia. Di Indonesia terdapat 10% spesies tanaman, 12% spesies mamalia, 16% spesies reptilia dan amfibi , dan 17% dari spesies burung yang ada didunia. Dari Beberapa spesies hanya terdapat di Indonesia dan tidak ditemukan ditempat lain.

Prinsip Etika Lingkungan



0 komentar
      Terdapat 9 prinsip etika lingkungan hidup yang dapat digunakan sebagai landasan dalam pengelolaan lingkungan yaitu:
(1) Sikap hormat terhadap alam
(2) Tanggungjawab terhadap alam
(3) Solidaritas Kosmik
(4) Kasih dayang dan kepedulian terhadap alam
(5) Tidak mengganggu/usil terhadap alam
(6) Hidup sederhana dan selaras alam
(7) Sikap adil
(8) Demokrasi
(9) Integritas moral
     Penegakan etika lingkungan ini sama halnya memberikan prioritas terhadap kelestarian keanekaragaman hayati seperti sama halnya para masyarakat tradisional yang teguh memegang budayanya, hidup harmonis dengan alam dalam kurun waktu lama. Dalam bidang pertanian teknilogi budidaya yang diterapkan oleh masyarakat lokal di Indinesia cukup beragam sesuai dengan karakter lingkungannya, tidak bersifat satatis melainkan dinamis sehingga menyangga kebutuhan pangannya selama berabad-abad.

sumber: Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si

Landasan Moral yang harus dibangun manusia untuk mengelola Keanekaragaman Hayati



0 komentar
Efisiensi dan efektifitas pengelolaan keragaman hayati dapat terwujud bila didasarkan pada keleluasaan pemahaman karakter keragaman hayati serta adanya kebersamaan di atas nilai-nilai keadilan menuju kesejehteraan bersama umat manusia. Untuk itu dibutuhkan sebanyak-banyaknya suber-sumber informasi keragaman hayati dan sistem pengelolaannya sebagai acuan dalam penentuan kebijakan. Terdapat 5 landasan moral yang harus dibangun manusia dalam pengelolaan keanekaragaman  hayati yaitu:
(1) Setiap spesies memiliki hek untuk hidup dan tergantung satu sama lain.
(2) Manusia bertanggung jawab sebagai penjaga bumi dan bertanggungjawab kepada generasi yang akan datang.
(3) Menghargai kehidupan manusia sama halnya menghargai keanekaragaman hayati.
(4) Alam memiliki nilai spiritual dan estetika yang melebihi nilai ekonominya.
(5) Keanekaragaman hayati dibutuhkan untuk memahami sejarah kehidupan. Berbagai kelompok agama, kepercayaan, dan budaya juga sepakat memberikan penguatan bahwa keanekaragaman hayati merupakan
bagian dari perintah Tuhan untuk dikerjakan dalam rangka pengabdiannya.


sumber: Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si

Prinsip-prinsip yang Terkandung dalam Ajaran Budaya Bercocok Tanam



0 komentar
(1) Dalam bercocok tanam harus memperhatikan musim/cuaca yang tepat; Indonesia memiliki pergantian musim dan cuaca sehingga apa yang ditanam di musim kemarau, penghujan atau masa peralihan hendaknya berbeda. Perubahan jenis dan bercocok tanam akan turut menjaga kelestarian fungsi dari lahan yang tersedia, disamping menjamin tetap tingginya produksi komoditas tanaman.
(2) Pilih jenis/varietas tanaman yang tepat tempat dan waktu; tanaman utama adalah penghasil makanan pokok, tetapi jangan hanya satu jenis saja misalnya padi saja atau jagung saja. Perlu juga dihargai jenis-jenis penghasil karbohidrat lainnya misalnya ubi-ubian, sagu, dll.karana masing-masing wilayah dan musim memiliki kecocokan terhadap tanaman yang dibudidayakan.
(3) Jangan ada pola tanam monokulturdalam ruang dan waktu; dalam satu masa tanam hendaklah ditanam lebih dari satu jenis tanaman untuk berbagai kepentingan hidup manusia baik pangan, sandang, papan, dan kepentingan lainnya.
(4) Jaga keanekaragaman tanaman seperti profilhutan; untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam berupa cahaya yang melimpah, ketersediaan air serta menjaga kesuburantanah, pola tanam yang diterapkan hendaknya mencontoh profil hutan, ada yang pohon, herba, merambat, dll sehingga terjamin keanekaragaman hayati termasuk untuk kehidupan berbagai jenis binatang serta keberlanjutan sistem produksi dalam jangka panjang. Teknologi  budidaya yang dikembangkan pun harus disesuaikan dengan kesesuaian waktu dan ruang serta kebutuhan hidup/budaya masyarakatnya.

sumber: Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si

Melestarikan Keanekaragamn Hayati



0 komentar
  Dalam kesempatan kali ini saya menyampaikan macam-macam upaya guna untuk melestarikan keanekaragaman hayati. Sebagian diantaranya yaitu:

 (1) Tradisi Menanam Pohon

     Salah satunya adalah menanam berbagai jenis pohon misalnya pohon beringin yang memiliki nilai yang sangat tinggi, diantaranya untuk konservasi air dan sebagai habitat berbagai satwa liar terutama kelompok burung. berbagai jenis pohon langka juga sering di tanam antara lain: kepel, sawo kecik, sala dan lain sebagainya.

 (2) Tradisi Grebek

     Tradisi ini biasanya di lakukan oleh keraton pada tanggal dan bulan tertentu. Dalam upacara grebek diantaranya menajikan gunungan terdiri dari berbagai macam jenis makanan tradisional dan buah-buahan yang diberikan kepada rakyat.tradisi ini memiliki makna yang besar bagi pelestarian ragam makanan khas/lokal yang dibuat dari produksi tanaman lokal. Pelestarian jenis-jenis makanan lokal memiliki andil besar bagi keragaman jenis tanaman budidaya lokal.

 (3) Tradisi bebedat

     Tradisi bebedat keluarga raja didaerah hutan mengisyaratkan tradisi ilmiah untuk mengenali kekayaan alam yang tersedia, membatasi populasi flora-fauna yang cenderung dominan untuk menciptakn keseimbangan alam, melakukan koleksi berbagai plasma nuthfah yang cenderung langka untuk dipalihara di lingkungan pesanggrahan yang sering dibangun di dekat tempat bebedat.

 (4) Pelestarian situs-situs keramat

     Tindakan pengeramatan tempat ataupun benda keramat ini ternyata mempunyai andil yang besar dalam melestarikan berbagai jenis kekayaan hayati. Dengan status keramat maka masyarakat tidak berani untuk mengeksploitasi secara sembarangan sehingga keberadaannya dapat terjaga. Sebagai contoh misalnya pengeramatan burung jalak lawu/gading di gunung lawu mampu mendukung konservasi jenis burung tersebut. fenomena ini jega dapet dijadikan rujukan bahwa penanaman jenis tumbuhan langka untuk tujuan konservasi sebaiknya dilakukan ditempat-tempat keramat, misalnya di taman makam.




Sumber: Prof.Dr.Sugiyarto, M.Si

Manusia sebagai sentra Kerusakan Alam



0 komentar
     Tingginya nilai/penghargaan manusia terhadap keanekaragaman hayati tak ayal akan cenderung mendorong peningkatan ekploitasi dan penguasaannya oleh individu, kelompok masyarakat bahkan Negara ataupun kelompok Negara. Pada gilirannya nanti hal ini akan menimbulkan ketegangan-ketegangan antar pengguna serta menimbulkan ancaman bagi eksistensi keanekargaman hayati tersebut. Jika dalam pengelolaannya tidak didasari etika yang baik. Ancaman terbesar adalah terjadinnya degradasi keanekaragaman hayati menuju kepunahan. Para ahli khawatir bahwa dunia kita berada di tengah-tengah kepunahan massalnya yang keenam yang disebut " periode antropogenis" dengan penyebab utamanya adalah tindakan manusia.
    Pada akhir abad 20 pola produksi monokultur ternyata menjadi lebih populer disebagian besar kalangan masyarakat hingga muncullah renolusi hijau, yang diantaranya ditandai dengan dicanangkannya program ekstensifikasi dan intensifikasi dengan masukan eksternal yang besar, baik berupa mekanisasi pertanian, bibit, pupuk, dan obat-obatan untuk pemberantasan hama, penyakit dan gulma.
    Perubahan gaya hidup menusia menuju modern yang cenderung mengacu kehidupan barat mempunyai andil besar bagi kemerosotan kekayaan hayati. Ada kecenderungan generasi muda untuk meninggalkan gaya hidup, adat-istiadat, tradisi dan budaya para leluhurnya yang akarab lingkungan dan berbeda di satu tempat dengan tempat lainnya sehingga mengurangi keragaman kebutuhan terhadap produk-produk lokal. Sebagai contoh, telah terjadinya perubahan budaya makan, dari penggunaan sumber pangan lokal menjadi sumber pangan yang harus dibeli bahkan diproduksi oleh industri serta melalui proses impor.

Sumber: Prof.Dr.Sugiyarto, M.Si

Nilai Penting Keanekaragaman Hayati



0 komentar
Bagi manusia keanekaragaman hayati memiliki nilai penting yang sangat vital dan sangat beragam.Banyak pakar telah menyepakati secara garis besar ada tiga nilai penting keanekargaman hayati, yaitu:

  (1) Nilai manfaat langsung ( nilai pasar/komoditas); Mencakup keseluruhan nilai manfaat keanekaragaman hayati yang dipanen baik untuk konsumsi sendiri, maupun diolah serta diperdagangkan. Nilai manfaat konsumtif diberikan untuk produk-produk hayati yang dikonsumsi secara lokal dan tidak ditemukan di pasar nasional maupun internasional, misalnya kayu bakar. meskipun nilainya tidak mempengaruhi indeks perekonomian nasional, namun gangguan terhadap sumber-sumber keragaman hayati yang bernilai konsumtif ini akan mempengaruhi kestabilan kehidupan  bermasyarakat penggunanya sehingga dalam jangka waktu tertentu juga akan berpangaruhterhadap kehidupan bernegara.
 (2) Nilai manfaat tidak langsung ; Mencakup keseluruhan manfaat keanekaragaman hayati sebagai barang yang tidak dipanen/barang publik antara lain untuk perlindungan tanah, pencegah banjir, pengatur iklim, sebagai objek rekreasi, pendidikan , dan lain-lain.dari perhitungan para ahli ekonomi lingkungan dinyatakan bahwa nilai kegunaan non konsumtif berupa jasa lingkungan ini jauh melebihi nilai konsumtifnya.oleh karena itu manusia tidak akan mampu bertahan tanpa jasa layanan ekosistemnya.
 (3) Nilai Eksistensi/Nilai pilihan/nilai harapan masa mendatang,yaitu mmencakup potensi keanekaragaman hayati untuk memberikan manfaat ekonomi/non ekonomi di masa depan. Nilai manfaat ini penting diperhatikan mengingat kehidupan manusia selalu berubah/dinamis sehingga berubah pula kebutuhannya. Banyak diantara kekayaan hayati yang semila tidak berguna, disaat lain sangat vital kegunaanya.

Manfaat keanekaragaman hayati dapat juga dipilah berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda, Misalnyanilai biologis, nilai psikis, nilai sosial, nilai mistis, bahkan nilai politis. Sehingga dalam pengelolaannya, jangan sampai manusia hanya mendasarkan pada pertimbangan ekonomi seperti yang terjadi saat ini. Pada prinsipnya keberagaman kekayaan alam, khususnya kenanekaragaman hayati serta sinerginya dapat dijadikan sebagai tumpuan harapan layanan hidup bagi manusia.

Sumber: Prof.Dr.Sugiyarto, M.Si
newer post